Dinamika Kesenian Barongsay
PENDAHULUAN
Sejak dikeluarkannya Keppres No. 6/2000 tentang pencabutan Inpres No. 14/1967 tentang agama, kepercayaan dan adat istiadat Tinghoa, masyarakat Tionghoa mendapat kebebasan untuk merayakan upacara-upacara agama dan adat istiadatnya. Perayaan imlek, Cap go meh, atraksi barongsay dan liong merebak dimana-mana. Dapat kita saksikan kesenian barongsay tampil di wilayah publik, atau perayaan imlek yang cukup meriah dan sampai ke jalan-jalan raya, suatu pemandangan yang tidak dapat kita saksikan pada masa sebelumnya.
Salah satu dari adat istiadat Tionghoa yang cukup marak kita lihat di Indonesia sekarang ini adalah kesenian barongsay. Kesenian ini tampil bukan hanya pada acara-cara ritual keagamaan dari masyarakat Tionghoa saja seperti yang selama ini terjadi, namun malah kesenian ini tampil berdampingan dengan kesenian tradisional Indonesia seperti ketika acara festival kesenian pesisir di Sumatera Barat tahun 2001, dimana barongsay, unjuk gigi menampilkan kemeriahan mereka (Rahman, 2002). Begitupun di Banten, dimana barongsay menampilkan kolaborasinya dengan kesenian Lenong (kompas, 7 Desember 2007). Barongsay juga tampil pada acara-acara yang bersifat nasional, seperti ulang tahun kemerdekaan, opening ceremonial yang dilakukan oleh pemerintah, sampai ke pertunjukkan-pertunjukkan malam seperti yang terjadi di Muara Karang, dimana barongsay tampil tiap malam minggunya (www.budaya_Tionghua.yahoogroups.com). Selain itu kesenian ini juga melakukan festival pertunjukkan barongsay, yang skalanya bukan hanya nasional, tapi juga internasional seperti kejuaraan barongsay internasional yang dilakukan di Padang dan Jakarta baru-baru ini.
Dengan maraknya penampilan barongsay di Indonesia ini, menandakan bahwa barongsay mulai mendapatkan tempatnya sebagai kesenian Indonesia. Ini berarti bahwa barongsay tampil bukan lagi hanya untuk masyarakat Tionghoa, namun juga untuk masyarakat Indonesia lainnya. Paper ini mencoba mengangkat beberapa dimensi yang terdapat dalam kesenian barongsay. Karena dengan maraknya penampilan barongsay dan seringnya barongsay tampil di wilayah publik, maka barongsay bukan hanya memiliki dimensi ritual sebagaimana selama ini terjadi, namun juga akan memiliki dimensi lain sesuai dengan penafsiran yang dilakukan oleh konsumen terhadap kesenian barongsay ini.
SEKILAS TENTANG KESENIAN BARONGSAY
Sebagai salah satu kesenian yang berasal dari daratan Tionghoa, nama barongsay dalam bahasa mandarin adalah “nien” atau binantang buas. Tetapi asal usul kata barongsay adalah kata yang diserap dari kata bo ling bo sai dalam dialek Hokkian, yang artinya bermain naga dan singa. Kata barongsay kemudian lebih populer karena menyesuaikan lidah orang Indonesia, karena kebanyakan orang sulit mengucapkan kata bo ling bo sai, sehingga akhirnya terucap kata Barongsay. Namun ada juga yang mengatakan bahwa nama “barongsai” adalah gabungan dari kata Barong dalam bahasa Jawa dan Sai sama dengan Singa dalam bahasa dialek Hokkian (Rahman, 2002)
Tidak ada catatan resmi yang menyatakan kapan kesenian barongsay ini masuk ke Indonesia, namun salah seorang pengurus Barongsay di kota Padang (Ahong) menyatakan bahwa barongsay masuk ke Indonesia sejalan dengan kedatangan mereka ke daerah nusantara. Kesenian ini terus berkembang di Indonesia seiring dengan perkembangan masyarakat Tionghoa itu sendiri. Seorang seniman barongsay di kota Palembang, Robert mengatakan, konon barongsay sudah dikenal di Palembang sejak zaman kerajaan Sriwijaya. Barongsay diperkenalkan di daratan sumatera oleh utusan kerajaan Kwang Cho dari daratan Tionghoa saat mengunjungi Sriwijaya (kompas, 30 Maret 2007).
Kesenian barongsay berkembang di dalam komunitas-komunitas masyarakat Tionghoa maupun di tempat ibadah mereka yaitu di Klenteng. Perkumpulan-perkumpulan atau komunitas Tionghoa yang ada di Indonesia pada umumnya memiliki group kesenian barongsay. Hal ini disebabkan karena barongsay merupakan bagian dari ritual mereka. Untuk di Padang, barongsay ini berkembang di perkumpulan Himpunan Bersatu Teguh dan Himpunan Tjinta Teman yang merupakan himpunan masyarat Tionghoa yang ada di kota Padang.
Banyak versi yang menjelaskan tentang asal usul dari kesenian barongsay ini. Konon, pada waktu itu ada sebuah makhluk jahat yang berwujud naga dan bertanduk yang mengganggu ladang dan kehidupan mereka. Masyarakat menjadi ketakutan, sehingga hampir seluruh negeri di Tionghoa mengalami kemerosotan hasil panen. Hal itu terus berlanjut dan sangat merisauan masyarakat. Lama kelamaan timbul keinginan untuk melawan makhluk tersebut. berbagai langkah dirumuskan, akhirnya diambillah sebuah kesepatakan bahwa makhluk tersebut harus dihadapi dengan makhluk yang serupa. Lalu masyarakat menciptakan suatu makhluk yang berbentuk singa bermata besar yang digerakkan oleh manusia yang bersembunyi di dalamnya. Ketika makhluk jahat tersebut datang, maka singa buatan tadi dikeluarkan dan digerakkan untuk melawan dan mengusuirnya, dan hasilnya naga tersebut mengelak dan melarikan diri. Kejadian ini terus berlanjut. Setiap naga itu datang, masyarakat melawanya dengan singa buatan tersebut, hingga pada akhirnya naga jahat tersebut tidak berani lagi datang menggaggu masyarakat. Semenjak itu masyarakat di Tionghoa memilki keyakinan bahwa singa buatan yang kemudian di namakan barongsay dari kata Bhu-lang say. Bhu : permainan, lang: orang, say : singa. Merupakan suatu bentuk kegiatan tradisi untuk penolak bala. (Rahman, 2002)
Versi lainnya menyatakan sejarah munculnya kesenian barongsay ini di mulai pada tahun 550 SM di negeri Tionghoa. Pertama di inspirasi oleh pemunculan Killin (kuda naga yang bertanduk), yaitu binatang suci dari negeri Tionghoa yang dalam penampakkannya membawa maksud akan terjadinya suatu peristiwa. Pemunculan pertama binatang berkepala, badan bersisik nagada berkaki kijang kepada ibunda kong hu cu mengawali peristiwa kelahiran kong hu cu. Pemunculan Killin juga tercatat dalam sejarah diakhir dinasti Ciu (1125-255 SM) dalam kitap Tang Ciu Kok yang artinya catatan sejarah dinasti Ciu Timur. Perwujudan dari binantang Killin kemudian ditranformasikan dalam pemainan barongsay. Inspirasi berikutnya berlanjut pada masa Dinasti Ming, dimana pada waktu itu raja pada zaman dinasti Ming mendapat hadiah dari bangsa barat berupa seekor singa dan anjing pudel. Raja sangat menyangi binatang tersebut, sehingga ketika kedua binatang raja sangat sedih, hingga pada akhirnya memerintahkan kepada mentrinya untuk menciptakan tarian yang meniru bentuk fisik dan gerakan kedua binatang, keduannya dipadukan menjadi satu, dengan bagian kepada berbentuk kepala singa dan kaki berbentuk anjing pudel. (Nio, 2007)
Dalam perkembangannya, barongsay terus mengalami perubahan dan perbaikan. Ketika zaman Dinasti Man Ching (Man Churia kurang lebih 1600-1911), permainan barongsay menjadi permainan rakyat. Sewaktu kaisar Kian Wyang menjajah tiongkok, dia sempat membakukan barongsay pada warna badannya. Putih yang melambangkan Lauwpi atau yang mengarah kepada kebaikan, warna merah yang melambangkan Kwan Kong yang berkesan berani, dan warna hitam yang melambangkan Thio Hwie yang diartikan menantang atau berani kepada siapa saja.
Secara umum, barongsay mempunyai dua aliran besar sesuai dengan asalnya, yaitu yang berasal dari Tionghoa bagian utara dan Tionghoa bagian selatan. Aliran Tionghoa bagian utara umumnya berbentuk seperti anjing peking dan penampilannya lebih natural karena tanpa taduk, sementara yang dari selatan umumnya memiliki tanduk dan sisik sehingga jadi mirip dengan binatang killin (kuda naga yang bertanduk. Seperti layaknya binatang-binatang lainnya juga, maka barongsai juga harus diberi makan berupa Angpau yang ditempeli dengan sayuran selada air yang lazim disebut “Lay See”. Untuk melakukan tarian makan laysee (Chai Qing) ini para pemain harus mampu melakukan loncatan tinggi, sehingga ketika dahulu para pemain barongsai, hanya dimainkan oleh orang-orang yang memiliki kemampuan silat – “Hokkian = kun tao” yang berasal dari bahasa Mandarin Quan Dao (Kepala kepalan atau tinju), tetapi sekarang lebih dikenal dengan kata Wu Shu, padahal artinya Wu Shu sendiri itu adalah seni menghentikan kekerasan. Didepan barongsai selalu terdapat seorang penari lainnya yang menggunakan topeng sambil membawa kipas. Biasanya disebut Shi Zi Lang dan penari inilah yang menggiring barongsai untuk meloncat atau bermain atraksi serta memetik sayuran. Sedangkan penari dengan topeng Buddha tertawa disebut Xiao Mian Fo.
DIMENSI RITUAL/RELIGI DALAM KESENIAN BARONGSAY
Barongsay bagi masyarakat Tionghoa mempunyai arti filosofis tersendiri. Di samping berfungsi sebagai penolak bala, juga sebagai pelancar rezeki. Di setiap hari raya imlek dan cap go meh barongsay selalu keluar dan ditampilkan untuk memeriahkan hari rayatersebut. Pada hari imlek, barongsay akan datang ke rumah-rumah penduduk untuk melakukan sembahyang dan mendoakan agar yang punya rumah terhindar dari segala musibah. Dengan datangnya barongsay, mereka akan merasa lega dan damai, dan bagi mereka yang punya toko atau akan membuka toko baru mereka berharap lebih maju lagi.
Menurut kepercayaan orang Tionghoa, Barongsay adalah sosok singa yang dijadikan sebagai lambang yang memilki kekuatan mistis agar manusia memperoleh akses untuk berhubungan dengan dunia gaib dan dianggap mampu untuk mengusir roh-roh jahat. Singa dianggapnya sebagai simbolisme hewan Tionghoa yang merupakan terjemahan dari suatu sikap keberanian. Barongsoy, menurut kepercayaan orang China, adalah sosok singa yang dijadikan sebagai lambang yang memiliki kekuatan mistis agar manusia memperoleh akses untuk berhubungan dengan dunia gaib. Singa, dianggapnya sebagai simbolisme hewan China.
Simbolisme itulah, akhirnya menjadi daya magis untuk melakukan pemujaan dan upacara yang terdapat dalam kebudayaan religi. Ada hal yang misterius yang dapat mempengaruhi orang. Karena, mempunyai kemampuan untuk mengundang roh dan memerintah roh tersebut. Atas kekuatan itulah, akhirnya menjadi perantara bagi dunia roh. Sejak zaman Dinasti Hsia, penggambaran itu dipercaya mempunyai makna. Berdasarkan kepercayaan Buddhisme dan Taoisme bahwa singa digambarkan sebagai pembela keyakinan dan hukum Budha. Tak aneh, sosok singa selalu terlihat sebagai pengawal yang terletak di bagian depan kuil-kuil Budha.
Kini pada hari Imlek ini, yang paling populer dipertunjukkan adalah simbol singa yang berakrobatik atau barongsay. Tradisi ini selalu mendatangi rumah-rumah atau kantor-kantor sebagai perlambang rezeki dan dipercaya mendatangkan berkah serta dapat mengusir pergi roh-roh jahat. Akrobatik ini, diiringi pukulan tambur dan gembreng serta mercon sebagai senjata pengusir roh. Tradisi barongsay, sebenarnya tidak menjadi keharusan untuk dipertunjukan pada saat Imlek saja. Pada hari biasa pun, kerap dimainkan. Karena, sudah dipercaya sebagai bentuk pemberkatan dan mengusir roh jahat. Biasanya, dimainkan saat ada acara pemberkatan rumah baru, kantor maupun menyambut tamu agung. Dalam tradisi Imlek, barongsay dimainkan sebagai bentuk penghormatan serta pelimpahan rezeki. Apalagi tahun baru itu merupakan hari raya terbesar. Tentunya, para pemain berupaya agar mendapatkan rezeki itu. Orang China menyebutnya Angpao. Pemainan barongsay akan berhenti jika sudah mendapat uang.
Dalam permainan barongsay, dimensi ritual atau religi itu juga dapat kita lihat. Barongsay dimainkan oleh kelompok pesilat Tionghoa yang menggunakan kekuatan batin chi untuk menggerakkan simbol roh itu, demikian juga singa itu bagian penyembahan nenek moyang dan merupakan personifikasi dewa-dewa. Ada tiga jenis singa; Kwan Kung yang bermuka merah dan berjanggut hitam, Liu Pai yang berwarna kuning dan Chang Fei yang bermuka dan berjenggot hitam. Sebelum barongsay dimainkan, biasanya terlebih dahulu disemayamkan di Klenteng atau Vihara, kemudian disembahyangi dengan dupa. Dan sebelum dimainkan, pemainnya berdoa dan menyembah patung Buddha terlebih dahulu dan melakukan sembahyang di tempat persembahyangannya atau di klenteng. Hal ini bertujuan untuk mensucikan jiwa dan raga mereka agar tidak diganggu selama permainan oleh roh-roh jahat. Semua penampilan barongsay juga harus mendapatkan restu dari Dewa-dewa dan roh leluhur mereka. Semua persyaratan harus sudah dipenuhi oleh pawangnya yang biasanya adalah pelatih tertinggi barongsay ini. gangguan yang biasa muncul adalah pemain akan kesurupan atau trance atau ketika sedang bermain pemain bisa jatuh. Kemampuan pawang adalah mengendalikan barongsay selama permainan dan menjaga agar tidak ada roh jahat yang masuk ke dalam arena permainan.
DIMENSI ART DALAM KESENIAN BARONGSAY
Sebagai sebuah bentuk kesenian, barongsay ini juga mempunyai dimensi seni dalam bentuknya. Perpaduan antara musik dan gerakan dari barongsay menghasilkan perpaduan gerakan yang indah. Bagaimana gerakan lenggoknya ekor barongsay, kerlipan matanya, dan lompatan-lompatan barongsay dari satu patok tiang ke patok tiang lainnya merupkan gerakan yang indah. Seekor barongsay dimainkan oleh dua orang pemain, yang terdiri dari pemain depan dan pemain belakang. Pemain depan untuk memegang dan memainkan kepada singa yang disebut dengan saito dan pemain belakang sebagai badan, kaki, dan ekor singa yang disebut denga pemain saibe (pemain ekor). Pemain lain adalah pemain musik yang terdiri dari satu orang memainkan tambur, dua orang memainkan simbel dan satu orang memainkan gong.
Setiap barongsay mempunya gerakan-gerakan dalam pertunjukkannya. Tidak ada peraturan baku mengenai gerakan barongsay ini, namun barongsay ini mempunyai beberapa gerakan dasar, yaitu :
- Singli yang artinya hormat : gerakan penghormatan, di mana barongsay melakukan gerak tiga kali, yaitu kiri, kanan dan kiri lagi. Gerak ini dilakukan ketika akan memulai suatu permainan dan ketika permainan berakhir.
- Ciwato yang artinya gembra : gerakan-gerakan yang memperlihatkan kegembiraan dari barongsay, seperti membuka mulut, mengedipkan mata, melenggokkan ekor barongsay.
- Mitien yang artinya cepat : gerakan-gerakan cepat dalam barongsay, seperti melompat
- Titien yang artinya lambat : gerakan dalam tempo lambat. Seperti berjalan.
- Mancising dan kueksising yang artinya pembersihan : gerakan membersihkan, seperti menjilat kaki, lantai, bangku, meja.
- Tampu yang artinya percobaan : gerakan seperti bergerak maju, mundur, seakan-akan gerakan ini tidak pasti.
- Cungcan dan siacan yang artinya naik dan turun : gerakan naik dan turun
DIMENSI EKONOMI DALAM KESENIAN BARONGSAY
Dimensi lain yang terdapat dalam kesenian barongsay adalah dimensi ekonomi. Dalam tradisi Imlek, barongsay dimainkan sebagai bentuk penghormatan serta pelimpahan rezeki. Apalagi tahun baru itu merupakan hari raya terbesar. Tentunya, para pemain berupaya agar mendapatkan rezeki itu. Orang China menyebutnya Angpao. Pemainan barongsay akan berhenti jika sudah mendapat uang. Dimensi ekonomi ini dapat terlihat pada pemberian Angpau ini yang terjadi dalam pertunjukkan barongsay. Angpau ini muncul karena seperti layaknya binatang-binatang lainnya juga, maka barongsai juga harus diberi makan. Makan yang diberikan kepada barongsay berupa Angpau yang ditempeli dengan sayuran selada air yang lazim disebut “Lay See”. Angpau diberikan sebagai ucapan terimakasih karena barongsay telah melakukan pemberkatan dan pengusiran terhadap roh-roh jahat.
Dalam pertunjukkan barongsay, sebelum pertunjukkan dilakukan biasanya para penonton sudah disodori dengan amplop yang berwarna merah terlebih dahulu. Para penonton kemudian akan memasukkan uang ke dalam amplop tersebut. kemudian setelah semua amplop diserahkan kepada penonton, maka barongsay akan memulai atraksinya. Ketika atraksi akan berakhir, barongsay akan menghampiri para penonton dan akan membuka mulutnya di depan penonton. Saat mulut barongsay sudah terbuka, maka penonton kemudian akan memasukkan amplop ke dalam mulut tersebut. selain pada waktu pertunjukkan, pemberian Angpau ini juga terjadi pada saat barongsay menghampiri rumah-rumah penduduk atau tako-toko yang pada umumnya terjadi pada saat adanya pembukaan sebuah toko, peresmian perusahaan atau pendirian rumah baru atau pada saat perayaan implek. Pada saat itu, barongsay melakukan pemberkatan agar usaha mereka lancar dan pengusiran terhadap roh-roh jahat.
Pada saat sekarang, barongsay tampil bukan hanya pada saat-saat tersebut saja. Di daerah Muara Karang Cengkareng, setiap malam minggu selalu ada yang membawa barongsay. Hal ini menandakan bahwa kedatangan mereka bukan lagi murni untuk melakukan pemberkatan atau pengusiran terhadap roh-roh jahat, namun lebih kepada untuk mencari Angpao dari toko-toko dan restaurant yang mereka datangi (www.budaya_tionghua.yahoogroups.com).
Barongsay juga dijadikan alat oleh pemerintah DKI Jakarta sebagai alat untuk mendatangkan wisata dengan menampilkan atraksi barongsay di kota tua Jakarta. Pemda DKI telah menampilkan atraksi-atraksi ini setiap hari libur untuk mengaet wisatawan yang ingin melihat kota tua di daerah Jakarta ini (Pos Kota, 19 November 2007).
DIMENSI POLITIK DALAM KESENIAN BARONGSAY
Dengan telah dicabutnya Inpres No. 14/1967 oleh Presiden Gus Dur, segala atribut tentang masyarakat Tionghoa muncul bak cendawan di musim hujan. Perlakukan masyarakat Indonesia lainnya yang selama ini kebanyakan melakukan diskriminasi kepada mereka mulai berkurang. Mereka mulai mendapatkan tempatnya dan “diakui” sebagai warga negara Indonesia. Keberadaan masyarakat keturunan Tionghoa yang cukup banyak dan menguasai sektor ekonomi di Indonesia telah menjadikan masyarakat Tionghoa menjadi “penting” dalam sistem perpolitikan di Indonesia. Mereka malah ditarik ke dalam kepentingan-kepentingan politik (terutama yang dilakukan oleh partai-partai politik) untuk dapat memuluskan kepentingan politiknya. Oleh sebab itu, seringkali kita lihat budaya-budaya dari etnis Tionghoa dijadikan sebagai komoditi politik mereka.
Begitupun dengan kesenian barongsay yang dijadikan sebagai salah satu komoditas politik. Kita masih ingat bagaimana ketika tokoh-tokoh politik di Indonesia seperti Megawati, Gus Dur, Hamzah Haz, Akbar Tanjung dan Amien Rais, ikut serta dalam peringatan imlek dan membawa barongsay dalam kegiatan-kegiatan politik mereka (Kompas, Rabu, 28 Januari 2004). Ketika partai-partai politik yang ada di Indonesia berkampanye, mereka seringkali menampilkan kesenian barongsay, dengan tujuan dapat merangkul masyarakat etnis tionghoa ke dalam partainya. Bukan itu saja, malah ada juga pemimpin daerah yang setiap ada kegiatan seremonial yang sifatnya daerah atau nasional menampilkan kesenian ini. barongsay dijadikan sebagai pertunjukan pembukaan dari acara tersebut. Sebagai contoh adalah tindakan dari gubernur Banten yang menjadikan barongsay sebagai ikon daerah Banten. Dia malah memohon kepada Kementrian Budaya Dan Pariwisata agar barongsay menjadi salah satu atraksi khas Banten (Kompas, Sabtu, 15 Desember 2007).
Contoh lainnya adalah pada peringatan HUT ke 62 Artiteri TNI-AD di Batalyon Armed 11/12 Kostra Magelang, dimana pada waktu perayaan tersebut, terjadi atraksi barongsay yang dimainkan kolaborasi puluhan prajurit TNI-AD dari batalyon Armed 03 Magelang dan Batalyon 11/12 Kostrad Magelang (Kedaulatan Rakyat, 06 Desember 2007). Di Sumatera Barat, barongsay seringkali dilibatkan dalam acara-cara kedaerahan. Pada pembukaan Pekan Raya Padang, barongsay menjadi atraksi utamanya, (Rahman, 2002)
Peristiwa-peristiwa semacam ini telah memperlihatkan bahwa barongsay mempunyai dimensi politik. Barongsay telah menjadi sebuah komoditas agar bisa merangkul etnis Tionghoa dan mendapatkan dukungan dari masyarakat Tionghoa tersebut.
KESIMPULAN
Sebagai sebuah seni pertunjukkan, karya seni sesungguhnya bersifat multitafsir bagi konsumennya. Artinya sebuah karya seni bisa ditafsirkan secara berbeda-beda sesuai dengan apa yang dipikirkan oleh masing-masing konsumen (Mundayat, 2006). Akibat perbedaan penafsiran tersebut, sebuah karya seni tidak lagi mempunyai dimensi yang sifatnya tunggal. Sebuah karya seni bisa saja memuat banyak dimensi yang terdapat di dalamnya. Begitupun dengan barongsay yang menurut penulis mempunyai paling sedikit empat dimensi di dalamnya, yaitu dimensi ritual/religi, dimensi seni, dimensi ekonomi, dan dimensi politik. Banyaknya dimensi yang terkandung dalam barongsay ini sesuai dengan penafsiran yang diberikan oleh konsumen atau pendukung dari kesenian barongsay itu sendiri.
Banyaknya dimensi yang terkandung ini, pada akhirnya menimbulkan banyaknya penafsiran yang terjadi pada masyarakat pendukung kesenian itu sendiri. Perbedaan ini pada akhirnya menimbulkan pertentangan mengenai makna dari kesenian barongsay itu sendiri. Sebagai contohnya, ritual yang bersifat religi yang dilakukan dalam kesenian barongsay menimbulkan kecaman dari masyarakat Tionghoa lain yang sudah mempunyai keyakinan yang berbeda dengan leluhur mereka. Masyarakat etnis Tionghoa yang sudah beragama kristen misalnya, mereka mengecam tindakan sinkretisme yang terdapat dalam kesenian barongsay karena bertentangan dengan kepercayaan mereka. Contohnya seperti adanya pemain barongsay yang keluar karena merasa ritual yang dilakukan sebelum pertunjukkan barongsay seperti pai-pai ke meja abu, sembahyang, dan ritual lainnya, bertentangan dengan ajaran Kristen (www.ekaristi.org) . Di sisi lain, setiap pelaksanaan barongsay justru dekat dengan sinkretisme ini. ini menimbulkan semacam paradok dalam memahami kesenian barongsay bagi masyarakat Tionghoa sendiri, satu sisi mereka berupaya untuk mempertahankan tradisinya, tapi di sisi lain mereka mengecam tindakan sinkretisme tersebut.
Perbedaan penafsiran lainnya adalah ketika barongsay dijadikan sebagai komoditas ekonomi. Pertunjukkan barongsay yang sering dilakukan pada malam hari tersebut, dilihat sebagai bentuk “mengamen”. Mereka hanya mengharapkan Angpau dengan berkunjung ke toko-toko atau restoran. Barongsay dianggap sudah kehilangan semangat spiritualnya ketika mereka sudah menjadi komoditas ekonomi bagi pihak-pihak tertentu.[1]
Begitupun halnya dengan dimensi politik. Dengan dicabutnya Inpres No. 14/1967 partisipasi masyarakat etnis Tionghoa dalam perpolitikan Indonesia juga menjadi meningkat. Seringkali dengan dibolehkannya tradisi Tionghoa dijalankan di Indonesia, kesenian-kesenian dari etnis Tionghoa ini menjadi komoditas politik yang dilakukan oleh partai-partai politik maupun pemerintah. Fenomena ini menyebabkan timbulnya reaksi masyarakat, terutama dari etnis Tionghoa yang mengecam tindakan-tindakan oknum pemerintah yang telah menjadikan barongsay sebagai daya tarik untuk merangkul masyarakat etnis Tionghoa.
[1] Pernyataan ini penulis dapatkan di Millis budaya_tionghua (www.budaya_tionghua.yahoogroups.com).
Daftar Pustaka
Kedaulatan Rakyat, 06 Desember 2007
Mundayat, Aris Arif., 2006, Djoko Pekik – Seni Sebagai Ekspresi Kritik, dalam Heddy Shri Ahimsa Putra, Esei-Esei Antropologi. Teori, Metodologi dan Etnografi, Kepel Press, Jogjakarta
Nio, Robert., 2007, Serba Serbi Cap Go Meh, www.kabarindonesia.com
Rahman, Fajri., 2002, Pemahaman Masyarakat Etnis Cina Terhadap Kesenian Barongsay di Kota Padang, Skripsi,Universitas Andalas, Padang
Sinar Harapan, 12 Februari 2002
Webmaster, 2007, Imlek, Barongsay dan Kekristenan, GBI Jemaat Induk Danau Bogor Raya
www.budaya_tionghua.yahoogroups.com
www.ekaristi.org., 2006, Bolehkah seorang Katolik merayakan Imlek?
This entry was posted on November 19, 2008 at 11:27 am and is filed under tulih manulih. You can subscribe via RSS 2.0 feed to this post's comments.
Tags: barongsay, dinamika seni, tionghoa
You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.
Desember 2, 2008 at 9:43 am
Tulisannya bagus, tapi pak ef, daftarkan blog wak ciek lai di blognya pak ef ini. Blog ini yang di blogspot.
Februari 19, 2009 at 4:18 am
Terima kasih atas artikelnya…. Tidak lupa, salam kenal ya…