Materialisme Budaya–Marvin Harris (review)

Sebuah Pengantar Mengenai Materialisenya Marvin Haris

Materialisme budaya merupakan sebuah pendekatan yang berangkat dari konsep materialismenya Marx. Materialisme ini selalu dikaitkan dengan nama Marvin Harris, yang mengusulkan nama pendekatan itu sendiri. Pendekatan ini didasarkan pada konsep bahwa kondisi-kondisi materi masyarakat menentukan kesadaran manusia, bukan sebaliknya. Marvin Harris sangat dipengaruhi gagasan Marx tentang basis (base) dan suprastruktur (superstructure). Ia menyebut basis sebagai ‘infrastructure’, suatu istilah umum dalam ilmu-ilmu sosial lainnya, yakni geografi. Ia memodifikasi skema Marxis dengan memasukkan unsur reproduksi manusia ke dalam basis (infrastructure), bersama-sama dengan mode ekonomi dari produksi. Selain itu, ia juga mengusulkan suatu kategori ‘antara’ (intermediate category), yakni struktur, diantara basis dan suprastruktur, suatu kategori yang tidak terdapat dalam skema Marxis.
Ketiga kategori tersebut yakni basis, struktur, dan suprastruktur, dilihat sebagai fenomena etik; artinya, ketiga kategori tersebut dapat ditemukan oleh ahli ilmu sosial yang menelitinya sebagai ilmuwan. Satu kategori, suprastruktur (yang secara luas adalah gejala ideologi dan mental) mengandung fenomena etik maupun emik. Fenomena emik adalah komponen mental dalam pikiran orang-orang yang merupakan anggota suatu kebudayaan atau masyarakat, yang memandang diri mereka sendiri dan dunia dari perspektif spesifik mereka sendiri, atas dasar nilai-nilai, pengetahuan, dan sikap yang dipelihara dalam kebudayaan. Bahasa adalah suatu kategori, yang terpisah dari semua kategori yang lain, yang menurut Harris berperan sebagai instrumen untuk mengordinasikan kegiatan-kegiatan basis, struktur, dan suprastruktur. Karena itu, bahasa memberikan suplai dan termasuk ke dalam katiga kategori, karena semua perilaku sosial manusia berimplikasi terhadap penggunaan bahasa.
Harris mengganggap pendekatan etik (dari sudut pandang ilmu sosial) sebagai strategi penelitian prioritas untuk mengembangkan penjelasan fenomena sosial manusia. Ia tidak menolak eksplanasi mental, supratruktur, yakni emik, memiliki otonom pada tingkat tertentu terpisah dari eksplanansi etik. Akan tetapi, ia lebih memprioritaskan pada analisis etik, dan ia juga memberikan prioritas pertama penelitian tentang basis atau infrastruktur, karena seperti halnya Marxis, ia yakin bahwa analisis basis akan menghasilkan keteraturan dasar dalam hubungan interaksi antara kebudayaan dan alam.
Sebagai suatu strategi penelitian, Harris sangat menganjurkan agar suatu penelitian berawal dari kajian mengenai basis (infrastruktur), kemudian struktur, dan akhirnya suprastruktur. Materialisme budaya mengemukanan hipotesis bahwa perilaku manusia dikontrol oleh persyaratan kebutuhan protein, energi, atau faktor-faktor alamiah lainnya. Berbeda dengan Marxisme yang menekankan pada basis, tanpa menghubungkannya dengan suprastruktur. Marxisme menekankan pada kesadaran manusia dan pentingnya peranan historis pada kelas-kelas manusia, yang dapat mengenal dan mengubah kondisi-kondisi sosial saat kondisi-kondisi tersebut sangat menekan dan tidak lagi tertanggungkan, ketika kondisi-kondisi sosial tersebut tidak lagi mampu menanggulangi kebutuhan manusia.
Secara metodologi, materialisme budaya terletak pada metode ilmiah dan aturan-aturannya dalam menghimpun data, memverifikasi hipotesis, dan mengembangkan analisis logika dan pembuktian yang tepat. Materialisme budaya sependapat bahwa realitas empiris independen dari kesadaran manusia, sehingga materialisme budaya dapat melakukan generalisasi dan menjelaskan serta mengisolasi alasan-alasan kesamaan dan perbedaan di antara berbagai masyarakat dengan memusatkan perhatiannya pada kajian infrastruktur materi masyarakat-masyarakat tersebut.
Dalam paparan Harris tentang materialisme kebudayaan sebagai strategi penelitian ilmiah, ia mengemukakan dua tipe konsep probabilitas, yakni probabilitas nonfrekuensi dan probabilitas frekuensi. Probabilitas itu membantu menstrukturkan prinsip determinisme infrastruktur, yakni mode perilaku etik dari produksi dan reproduksi secara probabilstik menentukan perilaku domestik etik (etik behavior domestic) dan ekonomi politik, yang kemudian secara probabilitas menentukan suprastruktur perilaku emik dan suprastruktur emik mental.
Dalam model ini dapat dipandang bahwa setiap rantai hubungan : infrastruktur-struktur-suprastruktur etik-suprastruktur emik, adalah hubungan probabilitas kausal. Secara aktual hubungan antara unsur-unsur struktur ini kompleks, karena infrastruktur bukanlah faktor penggerak utama tunggal melainkan keterjalinan kaitan yang kompleks dari variabel-variabel demografi, teknologi, ekonomi, dan lingkungan.
Prinsip-prinsip Teoritis dari Materialisme Budaya
Struktur universal sistem sosial budaya yang dikonsepsikan oleh materialisme budaya terletak pada konstanta biologi dan psikologi dari hakekat alamiah manusia, dan pada pembedaan antara pikiran, perilaku dan emik dan etik. Pertama setiap masyarakat harus menghadapi masalah-masalah produksi –mewujudkan perilaku untuk memenuhi persyaratan minimal subsistensi; dan oleh karena itu harus ada mode perilaku etik dari produksi. Kedua, setiap masyarakat dengan perilakunya, harus menghadapi masalah reproduksi –menghindari peningkatan atau pengurangan jumlah dan ukuran penduduk yang bersifat mengganggu atau merusak; jadi harus ada mode perilaku etik dari reproduksi. Ketiga, setiap masyarakat harus menghadapi masalah perlunya memelihara hubungan-hubungan perilaku yang teratur dan aman di kalangan kelompok-kelompok penyusunnya dan dengan masyarakat lainnya. Sesuai dengan pertimbangan teoritis dan praktis, materialisme budaya memandang ancaman yang timbul terutama datang dari proses-proses ekonomi yang mengalokasikan pekerja dan produk-produk materi dari pekerja bagi individu dan kelompok. Oleh sebab itu, fokus organisasi tergantung pada kelompok domestik atau hubungan-hubungan internal dan ekstenal dari masyarakat secara keseluruhan, orang akan membangun logika tentang perlunya eksistensi universal perilaku etik ekonomi domestik dan perilaku etik ekonomi politik. Keempat, bahasa dan proses simbolik merupakan hal yang bisa dianggap penting bagi psyche manusia, orang dapat menyimpulkan adanya keberulangan (rekurensi) universal dari perliaku produktif yang menuju kepada produk dan servis etik, rekreasi, sportif, dan estetik. Behavioral superstructure adalah label yang memuaskan bagi sektor etik rekurensi yang bersifat universal tersebut.
Secara ringkas, kategori-kategori perilaku etik utama bersama dengan beberapa contoh fenomena sosial budaya yang termasuk ke dalam setiap domain adalah :
Mode Produksi: Teknologi dan praktek-praktek yang digunakan untuk memperluas atau membatasi produksi subsistensi dasar, khususnya produksi makanan dan bentuk-bentuk energi lainnya, sebagai hambatan dan kesempatan yang timbul karena interaksi teknologi spesifik tertentu dengan habitat tertentu. Yang termasuk adalah Teknologi subsistensi; Hubungan tekno-lingkungan; Ekosistem; Pola-pola kerja
Mode reproduksi: teknologi dan praktek-praktek yang digunakan untuk memperluas, membatasi, dan mempertahankan ukuran populasi. Di dalamnya; Demografi; Pola-pola perkwinan; feryilitas, natalitas, dan mortalitas; Pengasuhan anak; Pengendalian medis atas pola-pola demografi; Kontrasepsi, aborsi, infantisida.
Ekonomi Domestik: Pengorganisasian reproduksi dan produksi dasar, tukar-menukar, dan konsumsi dalam rumah tangga, apartemen, atau tatanan domestik lainnya. Di dalamnya; Struktur keluarga; Pembagian kerja domestik; Sosialisasi domestik, enkulturasi, pendidikan; Peranan usia dan jenis kelamin; Disiplin domestik, hierarki, sanksi.
Eknomi Politik: Pengorganisasian reproduksi, produksi, pertukaran, dan konsumsi dalam dan diantara band-band, desa-desa, chiefdoms, negara, dan kerajaan. Di dalamnya; Organisasi politik, faksi, klub, asosiasi; korporasi; Pembagian kerja, pajak, dan pungutan; Sosialisasi politik, enkulturasi, pendidikan; Kelas, kasta, hierarki kota-desa; Disiplin, kontrol polisi/tentara; Perang
Suprastruktur Perilaku: Seni, musik, tari-tarian, sastra, periklanan; Ritual; Olahraga, permainan, hobi; Ilmu pengetahuan.
Harris dapat menyederhanakan kategori-kategori di atas dengan menggabungkan mode produksi dan reproduksi bersama di bawah rubrik infrastruktur; dan menggabungkan ekonomi domestik dan ekonomi politik di bawah rubrik struktur; maka terbentuklah skema sebagai berikut:
Infrastruktur (produksi dan reproduksi)
Struktur (ekonomi domestik dan ekonomi politik)
Suprastruktur (suprastruktur perilaku)

Bagaimanapun juga, rubrik-rubrik di atas hanya mencakupi komponen-komponen perilaku etik dari sistem sosiobudaya. Sementara komponen mental digambarkan Harris sebagai berikut:
Komponen perilaku         etik Komponen mental dan emik
Infrastruktur               Etnobotani, etnozoologi, gagasan subsistensi, ilmu gaib, agama, tabu
Struktur                      Kekerabatan, ideologi politik, ideologi etnik dan nasional, ilmu gaib, agama, tabu
Suprastruktur etik      Simbol, mite, estetika, standar dan filsafat, epistemologi, ideologi, ilmu gaib,                                               agama, tabu

Daripada membedakan komponen-komponen mental dan emik menurut kekuatan hubungannya dengan komponen perilaku etik spesifik, Harris mengabungkan bersama-sama dan menyebutnya sebagai suprastruktur mental dan emik, yang artinya tujuan-tujuan kognitif, kategori-kategori, aturan-aturan, rencana-rencana, nilai-nilai, filosofi, dan keyakinan-keyakinan mengenai perilaku baik yang disadari maupun yang tidak disadari yang diungkapkan dari warga masyarakat yang diteliti atau yang disimpulkan oleh peneliti. Jadi komponen utama yang universal dari sistem-sistem sosial budaya sudah dibangun: infrastruktur perilaku etik, struktur, suprastruktur, dan suprastruktur mental dan emik.
Prinsip teoritis utama dari materialisme kebudayaan adalah prinsip determinisme infrastruktur. Dimana Harris melihat bahwa mode perilaku etik dari produksi dan reproduksi secara probabilitas menentukan perilaku ekonomi etik domestik dan ekonomi politik, yang kemudian secara probabilitas menentukan suprastruktur perilaku emik dan suprastruktur mental emik. Pengaruh yang menentukan dari infrastruktur berakar dari fakta bahwa manusia tunduk pada aturan-aturan alam yang tidak dapat dilawan yang mengatur perolehan energi untuk keberlangsungan kehidupan. Prinsip determinisme infrastruktur semata-mata menyediakan seperangkat prioritas strategis dalam rangka menemukan faktor-faktor penyebab; materialisme budaya tidak menolak kemungkinan bahwa komponen-komponen emik, mental, suprastruktur, dan struktur bisa mencapai suatu tingkat otonom dari infrastruktur perilaku etik. Meskipun demikian, materialisme budaya memusatkan perhatian pada penemuan faktor-faktor kausal di dalam infrastruktur perilaku etik, dengan keyakinan bahwa, dalam banyak kasus, faktor-faktor kausal yang sangat penting akan ditemukan di sana

Explore posts in the same categories: tulih manulih

Tags: ,

You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.

One Comment on “Materialisme Budaya–Marvin Harris (review)”

  1. angga Says:

    Wah terima kasih atas informasinya. Sangat membantu saya dalam menjalankan kuliah (Sebagai referensi)

    sama-sama..


Comment: